Cerita Dewasa – Dapet kerjaan plus kenikmatan

Website Bandar Agen Taruhan Judi Bola Online Terpercaya
Cerita Dewasa – Dapet kerjaan plus kenikmatan
Cerita Dewasa – Dapet kerjaan plus kenikmatan

ArtikeLDetik – Dapet kerjaan plus kenikmatan

Cerita Sex – Kisah nyata ini bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 9.20 yang telah ditentukan, saya di interview pada session terakhir.

“Saudara Andi, silakan” panggil resepsionis cewek itu mengajak saya ke sebuah ruangan.
Di ruangan itu sudah duduk seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang Manager HRD. Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta dipadu rok mini merah, kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan tionghoa. Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 27 tahunan. agen poker

“Permisi Bu..”
“Selamat pagi, silakan duduk” sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan.
“Oh ya, kenalkan saya Githa”
“Andi Bu” jawab saya sambil bersalaman dengannya.
“Panggil Mbak aja ya”
“Iya.. Mbak”

Setelah acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir.
“Dulu apa pekerjaannya, Andi?” tanya Githa sambil menopangkan sebelah kakinya yang putih itu.
Duh cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong itu, pikirku. Kuperkirakan tingginya 165 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing, pokoknya seksi deh.

“Sampai sekarang sih masih sebagai free guide” jawab saya jujur.
“Maksudnya..?”
“Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu”
“Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi”
“Jadi maaf ya, Andi belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan”
“Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya”
“Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan”
“Maksud Mbak..?” tanya saya nggak ngerti.
“Kalo saya minta Andi menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?”
“Terserah Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok” jawab saya senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi.
“Besok ya, jam 09.00 di hotel Sen***** Beach, saya tunggu”
“Ya Mbak, pasti saya datang”
“Permisi Mbak”
“Ya, silakan” jawab Mbak Githa mengantar saya keluar ruangan.

**************************
Tepat jam 09.20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Githa menginap.
“Selamat pagi Mbak, kamar Mbak Githa yang mana ya?” tanya saya pada recepsionis hotel itu.
“Oh, Pak Andi ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Githa”
“Terima kasih Mbak”
“Sama-sama”
Ternyata Mbak Githa sudah menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas.
“Maaf Mbak, kelamaan nunggu ya?”
“Nggak apa-apa kok, tapi panggil Githa aja ya”
“Ya Mbak.. E.. Eh.. Githa”
“Andi, bisa nyetir kan?”
“Bisa.. emangnya kenapa”
“Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan”
“Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi”
“Githa pengin liat tempat gerabah dulu ya”
“Ya, ayo kita berangkat sekarang” ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Githa tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu.
Pada jam 09.40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang luarnya memakai anyaman rotan itu, jaraknya di luar kota Mataram. Setelah sampai, Githa membeli beberapa gerabah hingga jam 12.10 dan kami kembali lagi ke Mataram untuk makan siang.
“Terus Githa mau kemana lagi?” tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel.
“Temenin saya berenang yuk”
“Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich”
“Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?”
“OK boss”

Maka sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur.
“Tunggu di sini ya Ndi, saya mau ganti baju dulu” celoteh Githa sambil berlalu ke ruang ganti.
Setelah beberapa saat, wow.. Githa sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali, berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju renangnya.

“Ayo Ndi, kok bengong aja” katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam kolam yang cukup besar itu.
Kami berenang sampai jam 17.10 sore dan lalu Githa mengajak saya mengakhiri dulu acara renangnya.

“Sampai besok ya Ndi”
“Ya, sampai besok Gith” jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Githa memakai pakaian renangnya itu.
Beruntung sekali jika saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya. Ah tapi itu cuma angan-angan saya saja. Hari berikutnya saya antar Githa ke pemandian alam Suranadi, tempat air awet muda di Narmada, dan beberapa tempat wisata lainnya.
“Kita ke mall yuk” ajak Githa sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang kekasih saja.
“Ada acara apa nih ke mall?” tanya saya sambil melirik Githa yang duduk dengan santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap, pikirku.

“Saya mau beli pakaian atas nich” jawabnya.
Selama sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali. Siang itu Githa mengenakan kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman sekarang atau kreasi Githa sendiri. Mall Cilinaya itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Githa yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali. Rupanya Githa tidak keberatan saya peluk pinggangnya. Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan nih.

“Kita cari baju yuk” ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut.
“Okey..”
“Ini bagus nggak Ndi?” tanyanya sambil memperlihatkan hem merah.
“Bagus juga kok Githa, cobain aja” jawabku.
“Iya deh” jawabnya sambil menuju ruang ganti.

Tentu saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip ruang ganti itu, mungkin saja Githa tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Pertama-tama Githa membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri, kemudian ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Githa. Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Githa mencoba naik cidomo (semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall supaya aman.
“Gimana Githa, rasanya naik cidomo?” tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya yang berwarna putih polos. Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi sesak.

“Lucu ya, naik cidomo begini”
“Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini”
“Oh, gitu..”
Setelah bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Githa bisa beristirahat.
“Ndi, kamu tadi ngintip saya ya?” tanya Githa tiba-tiba sambil menatap saya lekat.
“E.. Eh.. Ya.. Nggak sengaja kok” kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Githa tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya. Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir.

“Mmh.. Gitu ya”
“Maaf ya Githa, saya nggak sengaja kok, kalo Githa nggak suka saya bisa pergi sekarang kok” jawab saya sambil akan meninggalkannya.
“Tunggu.. Ndi, sebetulnya Githa nggak apa-apa kok”
“Terima kasih kalo begitu” jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali.

“Gimana badannya Githa?” tanyanya lagi dengan antusias.
Wah ada kesempatan lagi, saya ingin berusaha membujuk Githa supaya mau making love dengan saya siang ini, paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya.

“Seksi sekali” jawabku.
“Yang bener” tanyanya memastikan.
“Abis bodinya Githa seksi sich, rajin fitness ya”
“Iya, ini akibat latihan fitness”

“Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar” ajak Githa tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali.
Tiba-tiba HP Githa berdering, dan Githa menjawab HP-nya sambil duduk di sofa. Wow, sekarang dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang agak membuka kedua pahanya itu. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Setelah Githa menutup HP-nya, Githa menatap saya dengan pandangan yang lain.

“Ada apa Githa?” tanya saya sambil duduk di sampingnya.
“Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya.
“Lho, kok cepat sekali” tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan.
“Biasa, panggilan dari bos besar..” jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra.
“Gimana kalo sekarang, Andi kasih hadiah”
“Hadiah apa, pasti asyik nih?” celoteh Githa penasaran sambil menatap saya serius.
“Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman”
“Hush, ngawur kamu, kan udah kukasih liat” celotehnya sambil nyengir.
“Lho, ini kan ada rasanya” jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus.
“Geli tau..” tolaknya manja.
“Lama-lama enak kok” rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Githa merasakan rangsangan.
“Jang.. An.. Ndi.. Kamu.. Nakal..” sentak Githa sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Githa.
Kesempatan itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah basah. Beberapa saat Githa masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos dan tangan kiri saya memegang kepalanya.

“Mmh..” guman Githa karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas.
“Sst.. Jann.. Ngan.. Sst..” celotehan dan sedikit rintihan Githa membuat saya tahu bawah Githa sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah.
“Aduh.. Sst.. Ndi.. Pelan-pelan..” rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya.
Tangan saya kembali bergerilya ke bawah punggungnya, dan berusaha melepas BH putihnya hingga akhirnya lepas juga. Dengan tiba-tiba BH itu buka oleh Githa sendiri hingga lepas ke lantai dan menarik kaosnya hingga ke atas. Tampak jelas payudaranya yang putih mulus dengan putingnya yang sudah berdiri kencang.
“Ndi.. Pakai kondom ya..?” pinta Githa sambil meraba-raba si boy dengan pelan.
“Ya Githa..” jawab saya sambil membuka kondom yang sudah saya persiapkan dari tadi. Githa sekarang sudah melepas kaos ketatnya hingga tinggal tersisa rok mini dan CD putihnya.
“Tunggu Githa, biar saya saja yang nanti melepasnya” cegah saya saat melihatnya akan membuka roknya, dan sekarang saya juga sudah membuka pakaian dan celana panjang hingga bugil tinggal tersisa CD saja.

“Ini rahasia kita berdua lho” bisik Githa sambil menatap saya tajam dan saya lihat di matanya ada keinginan yang terpendam dan sudah lama tak tersalurkan.
“Oke boss..” jawab saya sambil menciumnya dengan hangat dan disambut dengan gemas oleh Githa, bahkan tangan saya dengan bebas meremas payudaranya yang kiri dan kanan secara bergantian. Kemudian ciuman saya turun ke payudaranya dan melumatnya, menghisap bahkan menggigit putingnya hingga Githa merintih. Itu saya lakukan selama beberapa menit.
“Sst.. mmh.. terus.. sst.. ke bawah.. dikit.. sst..” pinta Githa sambil merintih tidak karuan sambil mendorong kepala saya memintaku mencium dan menjilat pusarnya.
Tangan kanan saya juga aktif merayap pada pahanya dan semakin naik ke bawah hingga masuk ke dalam roknya dan menyentuh vaginanya yang terbungkus CD. Saya usap-usap beberapa menit, kemudian tangan saya masukkan ke dalam CD putihnya dan mengorek-ngorek lubang vaginanya hingga mengeluarkan cairan.

“Sst.. Ndi.. Aduh.. Geli.. Sst..” rintih Githa sambil berusaha membuka roknya. Karena birahinya sudah cukup tinggi, saya bantu untuk membuka rok beserta CD-nya hingga Githa bugil sama sekali dan kelihatan bodinya yang padat dan montok.
“Ayo Ndi, buka juga dong, kok bengong..” pinta Githa tidak sabar sambil membuka CD saya dan keluarlah si boy dengan tegaknya. Githa sampai tercengang melihat si boy yang agak bengkok ini.
Bagaimana saya tidak bengong melihat cewek cantik putih mulus dan seksi di hadapan saya dengan ukuran payudara 34B ini. Kami sama-sama bugil sekarang dan saya mengambil posisi agak berjongkok untuk menghisap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan tercukur rapi, sedangkan Githa tiduran di sofa sambil membuka pahanya agak lebar.
“Lho, kok bengong” tanya Githa sambil membimbing kepalaku agar lebih dekat pada vaginanya.
“Ehh..” jawabku kaget tapi cuma sesaat karena berikutnya, vaginanya sudah saya jilat, yang pada awalnya baru pada bibir vagina dan lama-kelamaan pada lubang vaginanya mencari biji kacangnya serta menghisapnya lebih keras, bahkan bulu-bulu halusnya juga ikut tersapu dengan jilatan dan hisapan saya.

“Sst.. Oh.. Yes.. Sst.. Mmh..” rintih Githa panjang sambil menggerakkan pinggulnya ke atas sampai wajah saya terbenam semua dalam permukaan vaginanya. Sementara tangan kiri saya meremas-remas payudaranya silih berganti dengan dibantu tangan Githa sendiri.
“Sst.. Teru.. Ss.. Ndi.. Sstss.. Mmh.. Sst.. Saya.. Kelu.. Ar.. Ahhh..” jerit Githa karena dengan tiba-tiba menjepit kepala saya dengan kedua pahanya.
Rupanya Githa telah mengalami orgasmenya yang pertama karena saya tahu begitu banyak cairannya yang keluar.
“Githa, mau nggak isep si boy?” tanya saya menghentikan gerakan menghisap cairan vaginanya sambil menyodorkan si boy padanya.
“Mmh.. Gimana ya, Githa belum pernah tuch” jawabnya sangsi karena mungkin Githa memang belum pernah menghisap kemaluan cowok.
“Gini, kuajarin, Githa lumat aja dan jilat dulu kepalanya ya” bujuk saya sambil membimbing Githa duduk di sofa dan saya berdiri di hadapannya mengulurkan kontol. Tangan kanannya saya arahkan untuk memegang kontol saya dan memintanya mengocok pelan.
“Begini ya..?” tanya Githa sambil mengocok kontol saya pelan dan mengurutnya hingga si boy semakin keras saja.
Rupanya si Githa cepat belajarnya, dan saya semakin menikmatinya.
“Bagus.. Sekarang kulum Githa.. Sst.. Ya.. Gitu..” pinta saya lirih karena dengan cepatnya Githa mengulum kepala kontol saya dan semakin lama semakin ke dalam hingga kontol saya sampai masuk semua pada mulutnya, bahkan kadang-kadang tanpa diminta, Githa menjilati buah zakar saya tanpa jijik dan kembali mengulum dan menghisap kontol saya dengan irama yang kadang cepat kadang pelan.

“Sst.. Udah Githa.. Cukup..” pinta saya karena sudah tidak kuat menahan hisapan Githa yang semakin lama se makin liar saja.
“Ayo Ndi, Githa udah nggak tahan nich..” jawab Githa sambil memasangkan kondom pada kontol saya.
Kemudian Githa rebah telentang lagi di sofa dengan masih memegang kontolku yang sudah memakai kondom dan mengarahkannya pada bibir vaginanya. Kontol saya gesek-gesekkan dulu pada bibir vaginanya untuk pemanasan hingga membuat Githa mendesis kegelian.
“Sst.. Geli.. Ndi.. Udah masukin aja..”
“Auwh.. Sst.. Pelan.. Sst..” jerit Githa karena kepala kontol saya sudah masuk setengah pada vaginanya dan akhirnya masuk semua dalam vaginanya.
“Sst.. Aduh.. Mmh.. Sstss..” rintih Githa begitu kontol saya masuk semua dan menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Saya juga memompa kontol saya keluar masuk vaginanya dengan perlahan dan semakin lama makin cepat.
“Sst.. Ndi.. Mmh.. Sst.. Ce.. Petan.. Sst..” pinta Githa pada saya karena saya memperlambat sodokan kontol saya.
“Mmh.. Nah.. Gitu.. Ter.. Us.. Ssttss..”
“Githa.. En.. Ak.. Nggak.. Sst..?” tanya saya tersengal-sengal karena Githa semakin aktif memutar-mutar pinggulnya, bahkan tangan kanannya memegang pantat saya dan menekannya dengan keras hingga kontol saya semakin dalam masuk ke vaginanya.
“Sstss.. Enak.. Ndi.. Sstt..” jawabnya lirih karena kedua tangan saya silih berganti meremas payudaranya yang kadang-kadang saya isap puting susunya bergantian.
“Sstsstt.. Udah.. Ndi.. Kelu.. Arin.. Samaan.. Sst..” pinta Githa yang rupanya sudah tidak tahan pada sodokan kontol saya yang keluar masuk makin cepat diimbangi pula dengan cepatnya goyangan pinggul Githa.

“I.. Ya.. Githa.. Sst..” desis saya lirih karena saya dengan kuat juga diputar-diputar oleh pinggul Githa yang kencang itu hingga kontol saya rasanya senut-senut dijepit oleh vaginanya.
Beberapa puluh menit saya dan Githa melakukan making love itu dengan bersemangat hingga kepala Githa menoleh ke kiri-ke kanan tak beraturan. Rupanya pertahanan saya sudah akan bobol dan akhirnya saya memberi aba-aba pada Githa disertai dengan pelukan Githa yang makin kencang.
“Sst.. Ayo.. Githa.. Sst..”
“Sstsst.. Ahhh..” jerit Githa melengking sambil menjepit kontol saya dengan erat, disertai sodokan kontolku yang makin cepat dan akhirnya..
Crot.. croot.. croot.. Tiga kali tembakan saya muntahkan dalam vaginanya tapi masih di dalam kondom. Githa akhirnya lunglai sambil memeluk saya dengan hangat.
“Hahh.. Lega rasanya..”
“Gimana rasanya Githa?” tanya saya sambil membelai rambutnya yang harum itu.
“Enak gila” jawabnya sambil tersenyum.
Selama dua hari, sejak kejadian itu saya sering melakukan making love dengan Githa, bahkan sering Githa yang memulai lebih dulu. Akhirnya pada hari terakhir saya mengantar Githa ke bandara Selaparang. Hari masih pagi kira-kira jam 05.20, karena pesawatnya akan berangkat jam 07.10 . Mungkin Githa masih ingin curhat pada saya mengenai beberapa hal.

“Wah, masih sepi ya..”
“Iya Githa, baru kita aja yang datang, tapi nggak apalah, kita kan bisa ngobrol” jawab saya santai.
“Iya, ya”
Pagi itu Githa mengenakan hem yang baru dibelinya dan dipadu dengan rok jins mini kesukaannya yang berwarna putih. Setelah mengobrol sekitar lima belas menit, Githa kelihatannya gelisah dan mengajak saya ke toilet wanita.
“Saya tunggu di sini ya”
“Udah ayo masuk, mumpung nggak ada orang” pinta Githa sambil menggandeng tangan saya masuk ke toilet wanita itu.
Lalu kami masuk ke kamar mandi di pojok yang kosong. Gila juga Githa, nanti kalau ada yang tahu bagaimana, pikirku. Belum sempat saya berpikir panjang, Githa sudah melepas celana dalamnya yang berwarna merah dan mendorong saya duduk di atas toilet modern itu.

“Eh.. Githa.. Gimana kalo ada orang nich” jawab saya bingung, tapi akhirnya saya lepas juga celana jins beserta CD saya hingga si boy nongol dengan tegaknya.
“Sst.. Udah diam aja kamu” jawab Githa sambil meremas kontol saya hingga tegak sempurna.
“Tapi belum pake kondom nich”
“Nggak usah, Githa pengen yang original, ayo..” pintanya sambil mengarahkan kontol saya pada vaginanya.
Saya juga membantunya dengan memegang pantatnya hingga masuk semua kontol saya pada vaginanya. Posisi saya yang duduk memangku Githa dan Githa berhadapan dengan saya mengakibatkan tekanan vaginanya lebih terasa.
“Sst.. Ndi.. Ayo.. Cepetan.. Sst..”
“Iya..” jawab saya sambil dengan cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya.
Untung saja pagi itu belum ramai oleh penumpang dan toilet itu belum ada yang mendatanginya hingga Githa dan saya bisa making love dengan nikmat yang bercampur dengan perasaan berdebar-debar.

“Sst.. Sayang.. Cepet.. Sstt..” rintih Githa sambil menggoyang pinggulnya dengan liar.
“Sst.. Mmhmm.. Ssttss..” desisnya.
“Githa.. Sst..” desis saya lirih sambil tangan saya melepas kancing hemnya dan masuk ke dalam BH-nya serta meremas payudaranya dengan pelan, bahkan kadang-kadang saya cium juga bibirnya yang merah basah dengan gemas, yang dibalasnya dengan ciuman yang liar juga.
“Sstss.. Sstttss..” rintih Githa pelan sambil mempercepat goyangan pinggulnya.
Dan akhirnya kegiatan yang berlangsung kurang lebih 45 menit itu saya akhiri dengan mempercepat sodokan kontol saya dengan cepat hingga akhirnya muncratlah lahar putih saya dalam vaginanya dengan keras tanpa penghalang kondom.
“Sst.. Ahhhh..” jerit Githa sambil memeluk saya dengan erat karena bersamaan dengan keluarnya lahar putih saya, juga keluar lahar putih dari Githa. Hingga beberapa saat saya dan Githa masih menikmati sensasi itu dengan berciuman lembut.

“Trim’s ya Ndi..”
“Sama-sama Githa, kapan-kapan main-main ke Lombok lagi ya” jawab saya sambil membereskan celana dan baju, begitu pula dengan Githa yang mengganti celana dalamnya dengan yang berwarna hijau lumut.
Setelah rapi, saya dan Githa keluar toilet untuk mengobrol lagi menunggu pesawat yang masih belum berangkat juga. Beberapa saat kemudian baru Githa berangkat ke Jakarta dengan membawa dan meninggalkan sejuta kenangan. Selamat jalan Githa, terima kasih atas amplop dan kenangannya serta ijinmu agar saya bisa mengirimkan cerita pengalaman kita berdua ini, salam sayang dari sahabatmu Andi.

Nonton Film Semi KLIK DISINI

SELAMAT Menambah Wawasan DI ArtikeLDetik

Website Bandar Agen Taruhan Judi Bola Online Terpercaya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*