Menanamkan Cinta Belajar Sebelum Anak Bisa Membaca

Menanamkan Cinta Belajar Sebelum Anak Bisa Membaca

Ada pemandangan yang mungkin sering Anda lihat tanpa benar benar memperhatikannya. Anak berusia empat tahun jongkok lama sekali memandangi barisan semut yang mengangkut remah roti. Ia tidak sedang belajar dalam arti yang biasa kita bayangkan, tanpa buku, tanpa huruf, tanpa lembar kerja. Namun di kepalanya, sesuatu yang jauh lebih penting sedang tumbuh, yaitu rasa ingin tahu yang menyala. Justru dari nyala inilah cinta belajar bermula, jauh sebelum anak mengenal satu pun huruf.

Banyak orang tua merasa cemas bila anaknya belum bisa membaca di usia dini, seolah kemampuan itu adalah tanda utama kecerdasan. Padahal, yang jauh lebih menentukan masa depan belajar anak bukanlah seberapa cepat ia mengeja, melainkan seberapa dalam ia menyukai proses menemukan hal baru. Anak yang dipaksa membaca sebelum ia siap bisa saja mahir mengeja, tetapi kehilangan gairah. Sebaliknya, anak yang tahun tahun awalnya dipenuhi rasa penasaran yang dirawat akan datang ke huruf dan angka dengan hati yang terbuka.

Cinta belajar tumbuh dari kebebasan bertanya. Anak usia preschool adalah mesin pertanyaan yang tak pernah lelah. Mengapa langit biru, ke mana perginya air di wastafel, kenapa kucing tidak bicara. Bagi orang dewasa yang sibuk, pertanyaan bertubi tubi ini kadang melelahkan. Tetapi cara kita menanggapinya menanam benih yang dalam. Ketika pertanyaan anak disambut dengan minat, bukan dengan gerutu, ia belajar bahwa bertanya itu berharga dan bahwa dunia ini layak diselidiki. Guru dan orang tua yang mau berkata mari kita cari tahu bersama sedang memberi hadiah yang tak ternilai.

Bermain adalah cara utama anak belajar mencintai belajar, dan ini sering disalahpahami sebagai membuang waktu. Padahal saat anak berpura pura membuka toko, ia sedang berlatih berhitung, bernegosiasi, dan memahami peran. Saat ia menyusun balok yang berkali kali roboh, ia sedang belajar tentang keseimbangan dan ketekunan. Saat ia melukis dengan warna yang bertumpuk, ia sedang bereksperimen dengan sebab akibat. Bermain yang kaya adalah laboratorium tempat anak menguji dunia tanpa takut salah, dan justru di situlah kegembiraan belajar tertanam paling kuat.

Yang perlu dijaga adalah rasa aman untuk keliru. Anak yang takut disalahkan akan berhenti mencoba, dan anak yang berhenti mencoba akan berhenti belajar. Preschool yang baik menyambut kekeliruan sebagai bagian alami dari proses. Menara yang roboh dibangun lagi, gambar yang meleset ditertawakan bersama dengan riang, jawaban yang keliru ditanggapi dengan pertanyaan lanjutan, bukan koreksi yang mempermalukan. Dalam suasana semacam ini, anak belajar bahwa gagal bukan akhir, melainkan langkah menuju paham. Sikap terhadap kegagalan inilah yang kelak membedakan anak yang menyerah dari anak yang bertahan.

Rasa senang belajar juga tumbuh dari kesempatan memilih. Anak yang selalu diatur, harus mengerjakan ini lalu itu tanpa pernah diberi pilihan, lama kelamaan kehilangan rasa memiliki atas kegiatannya sendiri. Sebaliknya, anak yang boleh memutuskan hari ini ingin melukis atau bermain balok, ingin membaca buku tentang laut atau tentang serangga, belajar bahwa suaranya didengar. Pilihan kecil semacam ini menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lembut, sekaligus membuat kegiatan terasa miliknya sendiri. Anak yang merasa memiliki apa yang ia kerjakan hampir selalu mengerjakannya dengan lebih sungguh sungguh dan lebih gembira, dan kegembiraan itulah yang perlahan mengeras menjadi kebiasaan mencintai belajar.

Membacakan cerita menjadi jembatan indah menuju cinta membaca, jauh sebelum anak bisa membaca sendiri. Ketika Anda membacakan buku sambil memangku anak, ia tidak sekadar mendengar cerita. Ia merasakan bahwa buku adalah sumber kehangatan, kedekatan, dan petualangan. Ia belajar bahwa deretan gambar dan simbol itu menyimpan dunia. Anak yang tumbuh dengan cerita yang dibacakan dengan penuh perasaan biasanya mendatangi huruf kelak bukan sebagai tugas, melainkan sebagai pintu menuju sesuatu yang sudah lama ia cintai.

Pendekatan yang menaruh kebahagiaan anak di pusat inilah yang menjadi napas Global Sevilla sejak jenjang paling awal. Keyakinan bahwa murid yang bahagia adalah murid yang berprestasi bukan sekadar semboyan, melainkan cara memandang anak, bahwa gairah belajar yang tumbuh dari rasa senang akan bertahan jauh lebih lama daripada kemampuan yang lahir dari tekanan. Mindfulness yang menyatu dalam keseharian membantu anak hadir sepenuhnya pada apa yang ia kerjakan, dan anak yang benar benar hadir adalah anak yang paling menikmati proses belajar.

Saat mengunjungi calon preschool, ada tanda tanda halus yang bisa Anda amati untuk menilai apakah sekolah itu merawat cinta belajar. Perhatikan wajah anak anak di kelas, apakah mata mereka hidup dan bersemangat, atau lelah dan menunggu waktu pulang. Lihat apakah karya anak dipajang dengan bangga, termasuk yang tidak rapi, sebab itu tanda bahwa proses lebih dihargai daripada hasil sempurna. Dengarkan apakah kelas dipenuhi tawa dan percakapan, atau justru sunyi karena anak takut bersuara. Suasana yang hidup biasanya tanda bahwa belajar di sana masih terasa menyenangkan.

Peran Anda di rumah sama pentingnya dengan peran sekolah. Anda tidak perlu menjadi guru yang menuntut anak menghafal. Cukup jadilah teman yang penasaran bersamanya. Ajak ia mengamati hujan, biarkan ia membantu menakar tepung di dapur, dengarkan ceritanya yang berputar putar tentang harinya. Tahan keinginan untuk selalu mengoreksi dan menilai. Ketika anak merasa bahwa menemukan hal baru itu menyenangkan dan bahwa Anda ikut senang, ia sedang menyimpan gambaran bahwa belajar adalah bagian hidup yang membahagiakan, bukan kewajiban yang memberatkan.

Cinta belajar yang tertanam di tahun tahun preschool adalah bekal yang jarang terlihat tetapi selalu bekerja. Anak yang mencintai proses menemukan akan terus belajar bahkan ketika tidak ada yang menyuruh. Ia akan bertanya, mencoba, gagal, dan bangkit dengan caranya sendiri, di sekolah maupun jauh setelah bangku sekolah ditinggalkan. Inilah sebabnya tahun tahun awal terlalu berharga untuk dihabiskan hanya mengejar kemampuan membaca dini, sementara nyala rasa ingin tahu yang jauh lebih penting justru terabaikan.

Salah satu keuntungan menempatkan anak sejak dini di sekolah yang menawarkan jenjang berkelanjutan adalah nyala cinta belajar itu dapat dirawat tanpa terputus. Anda dapat menelusuri bagaimana jalur dari Preschool hingga Secondary dalam satu sekolah memungkinkan anak tumbuh tanpa harus berkali kali beradaptasi dari nol. Untuk gambaran menyeluruh tentang bagaimana langkah pertama itu dimulai, telusuri pilihan preschool jakarta di kampus Pulo Mas, Jakarta Timur. Sebab pada akhirnya, hadiah terbaik yang bisa kita berikan bukanlah anak yang cepat bisa membaca, melainkan anak yang seumur hidupnya senang belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *